Resep masakan

Resep Puding Coklat Oreo

Selamat pagi bunda sekalian, apa nih menu sarapan pagi ini? Tentunya yang sehat dan bergizi ya, dan jangan lupa jaga kebersihan juga agar makanan terhindar dari kuman. Untuk resep kali ini saya akan membagikan resep untuk menu dessert keluarga, yakni puding coklat oreo .

Hmm, kalo didengar pun sudah terasa enak kan? Menu ini cocok sekali untuk dessert di berbagai waktu ataupun waktu santai ngumpul dengan keluarga tercinta, dan bahkan untuk acara arisan bunda lho. Bahan apa saja sih yang perlu dipersiapkan untuk membuat puding coklat oreo ini, mari kita simak resep dan cara membuat puding coklat oreo sederhana ini. Tentunya menu dessert ini akan membutuhkan biskuit oreo yang terkenal enak itu, selain puding biskuit coklat oreo juga bisa dicampurkan kedalam jus coklat juga loh, seperti di beberapa daerah yang menjual pop ice oreo, pastinya anak bunda juga sudah mengenalnya atau mungkin pernah membelinya. Tidak pakai lama yuk kita coba buat puding oreo sederhana ini.

Capture.JPG

Bahan untuk puding oreo :

  • 100 ml susu kental manis merk apa saja
  • 700 ml air
  • 1 bungkus agar agar warna putih
  • 4 sendok makan gula pasir
  • 1 butir telur ayam kampung ( ambil kuning telurnya saja)
  • Biskuit coklat oreo secukupnya ( boleh rasa apa saja sesuai selera )
Bahan untuk puding jelly masing masing lapisan :
  • 1 bungkus jelly powder nutrijel ( boleh rasa apa saja sesuai selera anda )
  • 4 sendok makan gula pasir atau secukupnya
  • 700 ml air matang
Cara membuat :
  1. Siapkan panci kemudian masukkan semua bahan puding biskuit coklat oreo kecuali kuning telur dan oreo dan aduk rata
  2. Kocok kuning telur dan masukkan ke dalam adonan agar-agar tadi dan aduk lagi sampai rata
  3. Didihkan sambilĀ  diaduk beberapa saat danĀ  matikan api
  4. Remukan biskuit coklat oreo dan masukkan ke wadah cetakan sesuai selera
  5. Tuangkan adonan tadi ke dalam wadah cetakan yang telah diberi remukan biskuit oreo
  6. Untuk lapisan puding jelly campurkan semua bahan lapisan lalu masak sampai matang atau mendidih
  7. Angkat dan tuang di atas lapisan sebelumnya tadi, ulangi cara kedua di atas lalu bisa anda masukkan freezer agar dingin dan siap untuk dessert keluarga.
Cukup mudah bukan, bunda bisa membuatnya setiap hari jika bosan bisa menggantinya dengan biskuit oreo rasa lain seperti strawberry, vanila, kacang dan juga bisa mengganti rasa agar agar atau susu kental manisnya, silahkan berkreasi sendiri..
Advertisements
Ibu Hamil

6 Kesalahan yang Sering Dilakukan Ibu Pasca-Melahirkan

Pascamelahirkan banyak hal yang belum diketahui tentang mengurus anak. Akhirnya, secara nggak sengaja ibu melakukan kekeliruan yang seharusnya tidak dilakukan.

Capture

Perubahan status menjadi ibu baru pascamelahirkan memang tidak mudah. Kebanyakan para ibu mengalami baby blues. Hal ini karena banyak hal yang belum diketahui para ibu baru soal mengurus anak. Sehingga secara tidak sengaja para ibu melakukan kekeliruan yang bisa merugikan ibu, si bayi yang baru lahir dan juga pasangan. Berikut 6 kekeliruan yang sering dilakukan para ibu baru.

Capture

Terpaksa Tidak Tidur

Beberapa bulan pertama saat bayi lahir, jangan kaget kalau pola tidur menjadi kacau balau karena siklus tidurnya yang belum benar. Tapi, sebenarnya hal ini bisa kita atasi kok dan di sinilah kecerdasan kita sebagai ibu baru diuji. Hal yang paling penting dilakukan adalah berkerja sama dengan suami untuk mengatur waktu tidur kalian dan si bayi. Di malam hari, bagilah tugas dengan suami kapan kamu atau dia yang bangun saat si kecil bangun. Kamu juga harus “mencuri-curi” waktu tidur di siang hari di saat biasanya bayi tertidur lelap.

“Satu bulan pertama pascamelahirkan adalah hal yang mengerikan. Saya sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Bahkan, untuk memejamkan mata satu jam rasanya sulit sekali. Saat malam hari bayi saya selalu bangun jadi saya pun ikut terjaga.” Katharina, ibu dari Bayu (3 bulan).

Capture

Tak Punya Waktu

Sebelum bayimu lahir, mungkin kamu berpikir masih akan memiliki banyak waktu saat bayi tidur atau asyik bermain sendiri. Tapi, kenyataannya sama sekali nggak seperti yang dibayangkan. Saran untuk para ibu baru, jangan merencanakan hal yang belum kamu ketahui situasinya akan seperti apa karena biasanya kamu jadi kecewa dan malah kebingungan. Dengan berjalannya waktu, kamu akan menemukan cara sendiri mencari waktu untuk melakukan kegiatan lain di sela-sela waktu tidur dan bermain anakmu.

“Sebelum melahirkan saya sudah membuat jadwal keseharian. Maksudnya agar saya tetap memiliki waktu untuk diri sendiri dan mengerjakan pekerjaan kantor. Tapi, ternyata semua hanya teori. Saat melahirkan saya tidak punya pengasuh dan akhirnya saya mengurus bayi seorang diri. Sungguh menyita waktu.” Julia-ibu dari Jason (6 bulan)

Capture.JPG

Membeli Semua Barang

Namanya juga anak pertama, wajar jika orangtua menginginkan membeli segala perlengkapan untuk bayinya. Tapi, jangan sampai “kekhilafan”-mu ini akan merugikan keuangan keluargamu karena banyaknya uang yang terbuang. Untuk mengetahui mana yang menjadi prioritas yang harus kamu beli untuk si bayi, jangan sungkan bertanya dengan orangtua, anggota keluarga yang sudah memiliki anak, atau teman. Tahan juga hasratmu untuk membeli banyak pakaian dan aksesori saat anakmu masih bayi karena pertumbuhannya yang cepat membuat pakaian dan aksesori itu nggak akan bisa dipakai dalam waktu lama.

“Betul sekali, semua baju dan mainan anak terlihat lucu dan menggemaskan. Saat usia kehamilan 8 bulan saya suka sekali membeli perlengkapan bayi. Bahkan, sampai usia bayi saya 9 bulan, tiap bulan selalu ada baju dan mainan baru. Hasilnya ternyata banyak baju yang tidak sempat dipakai.” Retno, ibu dari Ayumi (9 bulan)

Capture.JPG

Percaya Semua yang Didengar

Karena belum memiliki pengalaman, kamu dan suami jadi percaya segala hal yang didengar dari orang lain. Apalagi jika orang-orang tersebut kalian anggap sebagai pakar atau ahli dalam hal mengasuh anak. Padahal, nggak semua nasihat dari mereka cocok untuk diterapkan ke anakmu. Kepekaan orangtua sangat diperlukan dalam mengasuh anak, jadi nggak ada salahnya mendengarkan saran dari orang lain, tapi kamu juga harus mengikuti naluri sendiri sebagai ibu dalam menerapkannya.

“Saya dan suami sampai bingung karena terlalu banyak mendengar ini dan itu dari orang terdekat. Bahkan, kami pernah berdebat karena nasihat dari orangtua yang menurut saya tidak cocok. Ternyata, jadi orangtua baru itu harus peka dengan bayinya sendiri bukan selalu mengikuti kata orang.” Lusi, ibu dari Kenzi (5 bulan)

Capture.JPG

Terlalu Khawatir

Bayimu nggak berhenti menangis, kamu khawatir. Bayimu nggak bisa tidur, kamu khawatir. Apapun yang dilakukan bayimu yang kamu anggap nggak biasa, pasti kamu langsung khawatir. Padahal, hal ini nggak perlu terjadi. Bayi yang baru berusia beberapa bulan memang masih mengalami adaptasi yang membuat perilakunya berubah. Jika memang kamu merasa ada yang aneh dengan bayimu, bersikaplah tenang, perhatikan lebih detil gejalanya, lalu segera ke dokter untuk membuktikkan apakah kekhawatiranmu benar. Tapi, selebihnya usahakan untuk nggak terlalu cepat khawatir kalau memang melihat ada perubahan pada bayimu.

“Ya, sebagai ibu baru saya selalu khawatir. Mendengar bayi menangis langsung panik dan buru-buru menggendongnya. Padahal, bayi menangis bisa saja kerena bosan dan rasa tidak nyaman. Terlalu khawatir membuat saya tidak menikmati peran sebagai ibu baru.” Siti, ibu dari Gita Anjani (3 bulan)

Capture.JPG

Mengabaikan Pasangan

Terlalu fokus mengurus bayi baru lahir kadang membuat istri jadi mengabaikan suaminya. Dengan alasan suamimu bisa mengurus dirinya sendiri, kamu lebih memilih untuk mengurusi bayimu setiap saat. Padahal, menjaga hubungan dengan suami nggak kalah penting, lho. Kalau kamu mengabaikannya, bukan nggak mungkin suami akan cemburu pada bayi. Usahakan untuk meluangkan waktu di pagi hari saat bangun tidur atau malam hari sebelum tidur untuk saling berbincang dan berbagi cerita. Jangan lupakan juga untuk tetap melakukan hubungan intim agar kemesraan di antara kalian tetap terjaga.

“Kelahiran anak pertama kami, sempat membuat hubungan saya dan suami menjadi jauh. Saya terlalu fokus mengurus bayi dan mengabaikan suami. Saya baru menyadari setelah suami mengeluh karena tidak punya waktu untuk berbagi cerita seputar pekerjaan di kantor. Padahal, ketika itu suami saya sedang bingung karena ada mutasi.” Lina, ibu dari Khanza (6 bulan)